Monday, January 6, 2014

Trombosis

Saya sungguh tidak menyangka akan mendapat serangan sakit mendadak spt minggu malam tgl 22/12 kemarin, rasa nyeri yg sangat hebat menghantam panggul dan perut saya bagian kanan bawah diikuti muntah2 yang tidak henti.
Saya langsung dilarikan ke UGD RS JIH untuk mendapat pertolongan pertama.
Malam itu saya diharuskan menginap di RS, setelah dipasang infus saya dipindah ke kamar dengan kondisi yang tidak lebih baik. Berkali-kali saya muntah dan kesakitan hebat dan sepertinya penanganan dan obat yg diberikan tidak mempan sama sekali.
Saya sudah mengeluh kesakitan tapi perawat ataupun dokter yang menangani saya tidak cukup pandai mengurangi sakit saya.
Semalaman itu saya merasakan betapa panjangnya malam bergulir sangat lambat, pagi hari yang saya harapkan untuk segera datang berikut seorang dokter yang mampu menolong saya tak juga terwujud.
Pagi-pagi saya meminta seorang dokter jaga untuk menemui saya dan membacakan hasil lab darah dan urin semalam karena saya sangat ingin tau sakit apa yang saya derita sementara saya merasa RS begitu lamban bergerak.
Akhirnya seorang dokter datang, dengan wajah sama sekali tak bersahabat, dan mengatakan klu dari hasil lab ada kemungkinan terjadi pengkristalan atau ada batu ginjal .
Hmmm... Mungkin ? Lantas kapan saya bisa yakin klu memang itu penyebabnya?
Dokter menjawab nanti akan di USG tapi nunggu dokternya
Kapan dokternya datang? Saya tanya dgn ringisan kesakitan yang amat sangat
Mungkin jam 12..
OMG.. !!!!
Saya mulai jengkel... Dan saya mengancam klu tidak bisa cepat bertindak saya pindah rumah sakit.
Luar biasa betul RS ini, dengan pelayanan kamar utama 450k perhari yg saya pilih ternyata tidak juga menjamin kecepatan mereka bertindak membantu mengobati pasiennya.
Sang dokter kemudian meralat kalau jam 9 atau 10.
Saya sudah diam memilih bungkam.
Pada saat yang sama, atasan saya datang menengok, melihat kondisi dan cerita saya, ibu segera cepat bertindak, kelihatannya ibu boss menelepon bbrp pihak untuk mencari alternatif, suaminya yang seorang dokter anak mungkin juga memberikan masukan.
Perawat tiba-tiba masuk kamar dan menyampaikan kalau saya akan segera di USG... Wah hebat betul ya..kalau diprotes atau diancam baru bertindak.
Akhirnya dgn nyeri yg mengiris2 perut saya didorong dgn kursi roda menuju ruang urologi.
Bersyukur krn saya sdh ditunggu dokter urologi, stlh USG sekitar 15menit saya dibawa kembali ke kamar. Sakit saya makin menghebat, saya sdh tidak tau lagi harus bagaimana, yang ada hanya bisa melawan sakit itu semampu saya.
Menunggu hasil lab terasa sangat lama sekali dalam keadaan setengah sadar krn kesakitan.
Akhirnya ibu boss datang dan menyampaikan kalau tidak ada kristal atau batu ginjal tapi ada abses di rahim yang sudah parah dan luka bernanah atau kemungkinan ada kista.
Ya Allah... Kesakitan saya sekarang bertambah dengan ketakutan. Apa yang terjadi dengan tubuh saya... :(


Ibu boss mengatakan klu saya dirujuk ke dokter kandungan, dan beliau mengajak saya bicara serius klu sebaiknya saya pindah RS dan ditangani secara benar.
Saya menurut saja, maka siang itu setelah keluarga saya mengurus adm dan menandatangani bbrp surat dan bayar biaya sakit.., saya dijemput ambulance RS Happy Land utk dipindah kesana.
Sakit saya makin mendera, jarak tempuh ke RS rasanya begitu lama, nyeri makin mengiris-iris terasa.
Perjalanan sekitar 30 menit ke RS Happy Land serasa berjam-jam.
Ketika sampai UGD saya sdh ditunggu dokter didepan hall dan dokter langsung memeriksa saya lagi tetap di ambulance krn kondisi saya yg bakal kepayahan klu diangkat ke ruang UGD dan bakal masuk ke ambulance utk menuju kamar perawatan. Setelah selesai diperiksa dan diinfus kembali saya segera dibawa dgn ambulance menuju gedung perawatan.
Begitu masuk kamar saya segera diinjeksi bbrp obat melalui lubang infus dipunggung tangan dan perawat memasukan kapsul anti nyeri melalui lubang dubur.
Berangsur-angsur rasa sakit yg saya rasakan berkurang, sambil menunggu dokter untuk USG saya diminta relaks tiduran.
Tapi beberapa rekan kerja saya datang berkunjung sehingga saya malah bisa berbincang dengan mereka.
Pukul 5 sore perawat datang dgn kursi roda, ternyata dokter sdh menunggu saya diruang periksa untuk di USG kembali.
Saya didorong perawat menggunakan kursi roda diikuti keluarga dan beberapa teman menuju lantai.
Dokter segera meminta saya naik ke bed, bbrp pertanyaan mulai diajukan dokter Rukmono SPOG, seperti kapan mulai sakit, apa yang dirasakan, gejala2 sebelum serangan dan didaerah mana yang terasa sangat sakit.
Cukup lama sang dokter meneliti kondisi perut bagian bawah saya, ditempat2 yg saya meringis kesakitan dokter lebih lama lagi mengamati.
"Hhmmm trombosis vena dalam..." Kata dokter dgn wajah serius.
"Nyeri sekali yaa...?" Tanyanya sambil memandang saya yg meringis2 kesakitan
saya mengangguk dan tersenyum getir.
"Kita USG vagina ya untuk lihat kondisi rahim.."
Saya mengangguk
Perawat segera membantu saya melepas celana.
Kembali dokter mengamati kondisi saya serius.
"Rahim bagus, bersih gak ada infeksi apalagi kista.." Terang dokter stlh melihat melalui layar monitor kondisi organ dalam.
Saya menghela nafas lega.
Setelah saya merapikan pakaian dan duduk dikursi roda dokter menerangkan ke saya dan keluarga yg mendampingi saya bahwa terjadi penyumbatan pembuluh darah di perut atau trombosis. Dokter lantas menjelaskan panjang lebar sebab dan akibatnya.
Dokter akan memberikan obat pengencer darah agar aliran darah lancar dan normal, tp sebelumnya saya akan diambil darah utk cek INR.
" Istirahat dulu, klu sdh tidak mual diusahan banyak minum yaa... Besok kita USG lagi.." Ucap dokter setelah seluruh pemeriksaan saya selesai.
Saya mengucapkan terima kasih banyak sblm suster kembali mendorong kursi roda saya menuju kamar.
Tamu-tamu saya lantas pamit disertai doa supaya saya segera sembuh, terima kasih teman2... :)
Sambil tiduran saya masih mendengar diskusi keluarga saya tentang sakit saya dari uraian dokter. Walaupun mereka bicara pelan tp sy berusaha menyimak.

Saya bersyukur bisa segera ditangani dgn benar. Dari uraian dokter dan referensi yg saya baca diinternet ternyata penyakit trombosis atau penggumpalan darah yang menyebabkan sumbatan di dalam jaringan arteri atau vena masih kurang disadari dan diketahui sebagai salah satu "silent killer" yang dapat menyebabkan kematian.

Sumbatan karena trombosis dapat secara total atau partial, kalau sumbatan total pada arteri koroner atau jantung dapat menyebabkan kematian secara mendadak dan jika sumbatan total pada arteri serebral atau otak maka bisa terjadi kematian karena stroke.
Oohh God semoga saya tidak mengalami kejadian diatas... Saya tetap bersyukur krn saya diberi peringatan dini. Trombosis vena atau DVT (Deep Vein Thrombosis) yang saya alami menyerah area panggul.

Dokter mengatakan sumbatan  dapat fatal jika bekuan darah lepas dan terbawa aliran darah serta menyangkut di arteri pulmonalis (paru) atau disebut PE (Pulmonary Embolism).

Maka dokter mewanti2 saya utk menuruti anjurannya.
Wah tentu saja saya akan sangat-sangat menurut. Merasakan betapa sakitnya nyeri spt bbrp jam lalu tentu saya tak ingin mengulanginya lagi.

Beberapa saat kemudian suster datang dan mengambil darah saya utk test D-dimer atau fragmen D-dimer yaitu suatu jenis uji sampel darah di laboratorium yang bertujuan untuk membantu melakukan diagnosis penyakit dan kondisi yang menyebabkan hiperkoagulabilitas: suatu kecenderungan darah untuk membeku melebihi ukuran normal.

"Agak sakit ya bu, darah yang diambil agak banyak..." Ucap susternya
Saya hanya bisa tersenyum.

Selang 1 jam perawat datang dan mengatakan dari hasil lab saya akan diberi beberapa obat lewat injeksi, infus dan obat oral, yg nantinya sy ketahui sbg obat pengencer darah, simarc 2.
" Hari ini ibu akan minum obat setiap 8 jam dan obat yg akan diinjeksi langsung melalui lubang infus. Kalau nyerinya datang lagi segera tekan bell saja.." Pesan suster.
Saya mengangguk pelan.
Dan benar saja tengah malam saya mulai kesakitan lagi, saya lantas diberi obat lagi melalui dubur.
Setelah nyeri berangsur hilang saya baru bisa tertidur.

Alhamdullilah setelah dirawat 5 hari di Happy Land kesehatan saya makin membaik. Tes INR vena dalam terakhir sblm saya diijinkan pulang sudah menunjuk angka 1,4.
Akhirnya saya diperbolehkan pulang.
Tentunya dgn beberapa catatan yang harus saya perhatikan dan lakukan, seperti tetap rutin minum obat pengencer darah, banyak minum air putih dan tetap bergerak atau olah raga ringan agar aliran darah lancar.


Alhamdullilah.. Terima kasih ya Allah.