Wednesday, January 21, 2015

First Surgery Experience

Menjelang operasi..

Pagi-pagi sekali seperti biasa saya sudah bangun, setelah sholat subuh , saya bersiap mandi.
Galo terbangun ketika saya menyalakan lampu ruangan utama.
“ Mom… mau mandi..? bisa pakai slang infus gitu..? “ Galo beranjak berdiri.
“ bisaaaa dong….” Saya tersenyum. “ kakak segera sholat subuh saja..” perintah saya.

Galo mengangguk dan mendahului saya ke kamar mandi untuk wudhu.

Memang agak ribet mandi sendiri dengan slang infus tertancap dipunggung tangan kiri. Sebaiknya memang memakai baju dengan kancing didepan biar lebih gampang dilepas kalau tidak mau memakai baju rumah sakit.

Pukul 05.00 wib, perawat masuk membawakan baju rumah sakit. Saya lantas dibantu ganti baju. Sambil menunggu sekitar 30 menit, satu persatu keluarga terdekat datang, bapak, ibu, nadjwa dan Ruben keponakan saya.

Tak berapa lama perawat datang sambil mendorong kursi roda.

Bismillah saya duduk dan sebelum didorong keluar saya cium tangan orang tua dan pipi kedua anak saya.

“ doain Mommy ya nak… biar lancar operasinya…” kedua anak saya mengangguk cepat.

“ ibu disini dulu ya nok…” ucap ibu sambil meraih mukena dan sajadah untuk sholat.

Saya mengangguk dan mengucap terima kasih untuk ibu yang selalu tulus mendoakan anak-anaknya.

Tiba diruang operasi. Seorang perawat meminta saya ganti baju operasi, setelah itu saya diminta menunggu dan tiduran di sebuah bed yg disediakan.
Tak berapa lama saya kembali didorong masuk ke sebuah ruangan, tempat operasi. Dokter Rukmono dan beberapa dokter serta perawat sudah berdiri disamping meja operasi dengan penutup berwarna hijau.

“ pagi….” Sapa dokter dengan ramah

“ pagi dok… “ balas saya sembari nyengir, mata saya berputar2 menyusuri seluruh ruangan operasi. Banyak alat tertata di samping kanan kiri meja operasi.

“ bisa tidur semalam…? “ tanya dokter lagi.

“ enggak dok… hehehehe..”

“ knapa..?” dokter mengamati wajah saya.

“ takut…” saya meringis

“ takut apa…? “ tanya dokter sambil mengangguk ke arah beberapa dokter lain yang menghampiri saya.

“ pagi… sudah siap…? “ sapa dan tanya seorang dokter, yang kemudian saya ketahui sebagai dokter anatesi.

Saya tersenyum dan menjawab salam, saya makin deg deg an.

“ duduk dulu ya… kita suntik anastesi di punggung ..” saya lantas dibantu duduk dan dipeluk dari samping oleh seorang perawat dan diminta menunduk dalam2.

Selanjutnya area yg akan disuntik dioles alkohol.. saya sempat tersentak karena kaget dengan rasa dingin “ tarik nafas dalam ya mbak…”
Ampun maakk… seingat saya ada 3 kali suntikan di punggung bawah yang membuat saya kesakitan. Duh… ampun dech… beneran sakit.
Setelah itu saya ditidurkan, beberapa alat mulai dipasang di badan saya, entah apa saja jenisnya saya tidak tahu karena saya mulai resah. Seorang perawat menginformasikan kalau kateter akan dipasang, saya hanya mengangguk.

Kedua lengan saya ditelentangkan dipapan meja samping kiri kanan dan dipasang beberapa alat yang terhubung ke monitor.

“ kakinya masih bisa dirasakan mbak..?”

Saya mencoba menggerakkan kaki, tapi kaki putih mulus saya tak bereaksi sama sekali… hehehehe.

Menunggu sekian menit kemudian, kaki saya sudah makin tidak merespon sama sekali. Tapi saya masih bisa merasakan perut saya ketika dokter mulai mengoles-oles cairan desinfektan ke perut saya agar steril.

Setelah beberapa saat ………………

“ okey..siap ya mbak.., berdoa yaa….” Dokter mulai menutup semacam tirai berwarna hijau didada saya

Tiba-tiba saya mulai merasa takut, agak panik tapi sekuat tenaga saya tahan, namun akibatnya tak terasa air mata meleleh membanjiri pipi.

“ lhoooh… kok nangis… kenapa..?” tatap pak dokter

“ saya ..saya takut dok..” ucap saya terbata.

Hik… ternyata saya takut juga, mengikuti proses operasi dengan sadar walaupun tidak bisa melihat dan merasakan, tapi ternyata butuh keberanian ekstra untuk menghadapi.

“ gak apa-apa.. khan sudah dibius.. gak terasa… gak melihat juga..” sang dokter kembali menatap saya, mungkin dibalik penutup maskernya dia tertawa ngakak melihat kalutnya saya.

Seorang perawat perempuan lantas memeluk bahu dan mengelus-elus kepala saya… hahaha.. saya jadi merasa seperti anak kecil yang ketakutan.

“ tenang saja… rileks … kalau takut ditambah obatnya ya..biar bisa tidur..” saya lirik perawat lain menyuntikan sesuatu melalui selang infus ditangan saya.

Entah tertidur atau tidak tapi seingat saya , saya tetap sadar melihat semua gerakan dan mendengar semua percakapan tim operasi saya.

Bahkan saya bisa bercanda dengan dokter setelah sekian lama dokter mengotak atik perut saat dokter memperlihatkan kista gendut sebesar telapak tangan didepan saya.

“ besar yaa…” kata dokter sambil menyuruh seseorang untuk mengambil gambar.

Saya tercengang, melihat langsung benda asing sebesar telapak tangan yang diambil dari dalam perut saya, hanya istiqfar yg spontan terlontar dari bibir saya.



“ ntar saya kirim gambarnya, pakai WA khan..?” tanya pak dokter dan saya mengiyakan.

“ beneran dikirim ya dok.. lha kemarin saya sms dokter gak dibalas.. dah mau saya kirim pulsa 5000 e dok…” canda saya diiringi ketawa orang-orang diruang operasi.

“ hahaha… mbak nya lucu lho… Nah gitu dong.. operasinya gak menakutkan khan..” ucap dokter.

Saya tertawa sambil menata rasa yang berkecamuk didada antara surprised melihat bentuk kista dan lega karena sudah diangkat dengan mudah.

“ kondisi organ reproduksi bagus mbak, tidak ada perlengkatan.. bersih.. “ info dokter kemudian.

“ ohh syukurlah dok. Klu sekarang dokter lagi ngapain..? saya malah berani bertanya, hehehehe

“ ini sedang dijahit, jahitnya beberapa lapis..”

“ enggak perlu dilepas jahitan khan dok..?”

“ ooh enggak.. besok lihat saja, jahitannya cuma seperti garis melintang, agak panjang sih tapi gak kelihatan..” ucap dokter sambil tetap sibuk bekerja.

Beberapa lama kemudian akhirnya kelar juga operasi saya.

Setelah saya bersih dan rapi, semua alat monitor yang menempel ditubuh saya dilepas, saya siap didorong keluar ruangan operasi.

“ dok… makasih yaa… “ ucap saya sambil menggenggam tangan dokter sebelum saya berlalu.

“ sama-sama… semoga cepat sembuh…” balas dokter Rukmono.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk semua tim operasi yang masih berdiri didekat saya.

Diluar ruangan saya melihat orang tua, saudara dan anak-anak yang tengah menunggui saya.

Mereka terlihat tersenyum lega.

Saya langsung dibawa kembali ke ruang rawat inap saya dilantai 4.

Sepanjang perjalanan saya mengucap syukur, operasi berjalan lancar , cepat, kondisi saya baik dan semoga lancar juga kesembuhan saya.