Sunday, January 15, 2012

Ear Candling


Terapi ear candle...? Sebenarnya apa manfaatnya? Waktu adik mom mencoba di salon langganan kami, untuk sekali terapi blom terlihat manfaatnya seperti apa Ɣªήğ ditawarkan , begitu kata tante Andra.
Ketika ditunjukan hasil pembakaran lilin Ɣªήğ berbentuk corong mmg terlihat ada noda2 kekuningan Ɣªήğ menempel di ujung sisa pembakaran, apakah itu kotoran telinga? Kata terapisnya sich gitu, tp mom ragu misalnya Ɣªήğ dibersihkan itu adalah telinga Galo krn kotoran telinga Galo bentuknya kering dan menempel erat ditelinga, rasanya gak mungkin kotoran itu bisa lepas dan tervakum ke atas. 
Cause utk mengangkat kotoran telinga kakak, mom hrs memakai alat spt spatula kecil terbuat dari bahan plastik. Biasanya kotoran telinga kakak kering, keras, besar dan nempel erat.
Dan kalau ngliat proses candlingnya, kok mom ngeri yaa... Api... takut kebakar... ◦нă☺нăă☺нăă  ◦ º°˚••˚°º

fire on 
Penasaran dgn ear candle membuat mom jd minat gugling internet.
Waaahhh ternyata banyak pro kontra. Ada Ɣªήğ bilang bermanfaat , bahkan bisa menyembuhkan sakit telinga, mengurangi stress, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan mood, mampu membantu penyembuhan penderita sinusitis bahkan ada yang bilang bisa memperlambat menopouse.

Tapi ada juga Ɣªήğ kontra krn ear candle sebenarnya tidak ada manfaatnya.
Rebecca Long, presiden Georgia Council Against Health Fraud, telah menguji penggunaan ear candle , dengan bantuan seorang teman, arahan dari kemasan ear candle Ɣªήğ dibelinya diikuti dengan cermat. Ia temukan bahwa candling menghasilkan suara berdesis, yang mirip dengan suara kelomang yang didekatkan ke telinga, namun jauh lebih keras. Namun udara di dalam telinganya menjadi terlalu panas sehingga ia harus menghentikan percobaan.

Selanjutnya, dilakukanlah sebuah percobaan sederhana lainnya: membandingkan hasil kerja ear candling dengan dan tanpa telinga. Dua penyelidik menguji lilin untuk melihat apakah wax yang terkumpul setelah pembakaran seluruhnya berasal dari lilin atau juga mengandung wax yang keluar dari telinga.

Untuk melakukan ini, mereka membakar lilin dan menempatkan ujungnya: (a) di dalam liang telinga, (b) di luar liang telinga, sedemikian rupa sehingga wax yang menetes akan tertampung dalam semangkuk air, dan (c) di dalam liang telinga namun dengan tube penghalang, sedemikian sehingga memungkinkan kotoran telinga bergerak ke dalam tube namun menghalangi wax lilin bergerak turun (ke dalam liang telinga).
Uji ini memberi hasil bahwa semua residu yang terbentuk berasal dari lilin dan tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan. Hhmmmm...Ear candling's not working, my dear!

Karena wax bersifat lengket, tekanan negatif (vakum) yang diperlukan untuk menariknya ke luar rongga telinga haruslah sedemikian kuat , spt Ɣªήğ terpikir oleh mom bila kasusnya menggunakan telinga Galo. Bisa dibayangkan jika tekanan Ɣªήğ dibutuhkan sangat kuat kondisi itu tentu dapat merusak gendang telinga pada prosesnya. Bagaimanapun, ternyata prosedur candling bahkan tidak menghasilkan kondisi vakum.
Peneliti yang mengukur tekanan menemukan bahwa tidak tercipta tekanan negatif selama proses candling terhadap relawan. Penyelidik yang sama telah melakukan candling selama 8 tahun dan menemukan bahwa tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan, dan wax lilin justru menumpuk di dalam telinga. Oooo ooo..

Pernyataan bahwa liang telinga terhubung ke struktur di dalam gendang telinga adalah palsu. Liang luar telinga, beserta gendang telinga di dalamnya, tidak terhubung ke otak, sinus (yang menjadi target 'terapi'), ataupun saluran Eustachia (kanal antara telinga tengah dan bagian belakang kerongkongan).

Ada klaim yang menyebutkan bahwa gendang telinga berpori dan dapat melewatkan pengotor dengan cepat. Ini tidak benar. Pengotor yang terdapat di wax yang terkumpul tak lebih dari abu/sisa dari pembakaran lilin dan kerucut penyangganya.

Lantas adakah bahayanya ear candling ? Candling berisiko terhadap beberapa bahaya, dan yang paling serius adalah terbakar oleh lilin panas. Pembuat lilin mengklaim bahwa lilin mereka hanya akan menetes di bagian luar telinga. Dan anda bisa berkomentar bahwa itu merupakan kecerobohan praktisinya.
Tentu saja ada cara untuk menghindari masuknya tetesan lilin cair ke dalam telinga: posisikan lilin dalam keadaan mendatar. Tapi saran dari produsen ini terdengar konyol. Bagaimana bisa tercipta suasana vakum? Lilin yang mendatar tidak dapat menutup rapat liang telinga pasien yang sedang berbaring miring ke satu sisi.

Sebuah pendataan pada tahun 1996 terhadap 144 dokter THT menemukan bahwa 14 di antaranya didatangi oleh pasien yang terluka oleh 'terapi' lilin ini. Termasuk -setidaknya- 13 kasus luka bakar luar, 7 kasus liang telinga yang tersumbat lelehan lilin, dan 1 kasus gendang telinga yang rusak (bolong, perforated).

Dilaporkan oleh The London Free Press, harian Kanada. Seorang perempuan yang mengalami penyumbatan di hidung dan sakit telinga saat melakukan scuba diving pergi ke sebuah toko 'makanan kesehatan' dan dirujuk ke seorang praktisi candling yang 'diakui'.
Selama 'perawatan', ia merasakan sensasi terbakar yang kuat di telinganya. Di ruang rawat gawat darurat, usaha untuk menyingkirkan tetesan wax yang menempel di gendang telinganya mengalami kegagalan. Operasi dilakukan, dan ditemukan sebuah lubang di gendang telinganya, yang kemungkinan besar terjadi akibat candling.
Untungnya, perempuan tersebut pulih secara penuh dan pendengarannya normal kembali. Praktisi ear candling tersebut meminta maaf, memberikan kompensasi, dan berhenti melakukan praktik ear candling.

Sebagai penutup, inilah penjelasan dari Sandra Yemm, seorang praktisi ear candling, ketika ditanyakan tentang kasus rusaknya gendang telinga yang saya sebutkan tadi:
Ear candling doesn't remove the wax from one's ears. But she says that's not the point: "It doesn't matter whether it's being removed or not because you're going to get some harmony through the changing of the energies and perhaps that's all that's needed."
Sumber : Lita- Banana Talk.

Powered by Telkomsel BlackBerry®