Thursday, November 17, 2011

Outing naik kakapi


Mommy, besok adeq outing …” Nadjwa mengelendot manja dipinggang mom begitu melihat mommy masuk rumah sepulang dari kantor kemarin hari.
“ oya..? outing lagi ? kemana sayang?.... “ pertanyaan mommy beruntun sambil mencium pipi dedeq gemas.

“ ke stasiun kereta api, asyik besok jalan-jalan lagi…” Jawab Nadjwa antusias dengan kegiatan outing sekolahnya.

“ enak ya.. sekolahmu sering banget outing, jalan-jalan, kunjungan kemana-mana…” Mom mengingat-ingat sekitar 1-2 bulan ini kalau gak salah adeq sudah berkunjung ke museum Kekayon dan tempat daur ulang sampah. “ jangan lupa mempersiapkan kebutuhan yang mau dibawa Nadj.., seragam, topi, makanan, minuman, tissue…”

“ iya mommy sayang…. “ Nadjwa cepat mengangguk dan tersenyum manis.

*-*



Pagi begitu cerah, hari ini Nadjwa sudah siap jalan-jalan menuju stasiun Kereta Api Lempuyangan. Sepertii biasanya mom mengantar adeq sekolah. Ketika memasuki halaman SD Int Model Sleman, sudah terlihat bus-bus besar berjajar disepanjang halaman sekolah, siap mengantar murid-murid SD belajar tentang trasportasi darat kereta api.

“ jangan lupa berdoa di dalam bus sebelum berangkat ya nak…” pesan mommy.
Nadjwa mengangguk sambil mencium tangan mommy sebelum berlari-lari kecil menuju kerumunan teman-temannya yang sudah datang lebih dulu.

*-*


Sejarah Stasiun Lempuyangan

Walaupun Lempuyangan selama ini dikenal sebagai stasiun yang hanya melayani datang dan perginya KA ekonomi, stasiun ini ternyata memiliki sejarah dan peranan yang amat penting bagi perkembangan dunia perkeretaapian di kota Jogja.
Stasiun Lempuyangan diresmikan pada 2 Maret 1872 oleh pemerintah Hindia Belanda. Peresmian Stasiun itu menjadi awal hadirnya Kereta Api pertama di wilayah Yogyakarta. Ketika itu Stasiun Lempuyangan hanya melayani rute Yogyakarta-Semarang. Sekitar 15 tahun kemudian barulah hadir Stasiun Tugu
Sebelum pemerintah Hindia Belanda meresmikan dan menyetujui Undang-Undang pembangunan jalan KA di pulau Jawa, sebuah perusahaan KA swasta asal Belanda bernama 'NV Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij' atau NISM telah membangun rel sepanjang 26 kilometer dengan rute Kemijen, Semarang-Tanggung, dan Grobogan. Setelah bisnisnya merugi NISM kemudian meminta pemerintah Hindia Belanda melanjutkan pembangunan rel sepanjang 166 km menuju Yogyakarta. Sehingga pada masa itu, Stasiun Lempuyangan tercatat sebagai salah satu stasiun yang menjadi bagian dari sejarah terbentuknya jaringan rel kereta api di Pulau Jawa.

Kini, Stasiun Lempuyangan dikelola oleh PT Kereta Api Daerah Operasi (Daop) VI Yogyakarta. Selain melayani datang dan perginya kereta ekonomi, seperti Progo dari Jakarta-Jogja dan sebaliknya ataupun sejumlah kereta ekonomi dari Bandung dan Surabaya, Stasiun Lempuyangan juga melayani kereta Prambanan Ekspress (Prameks) yang melayani rute Jogja-Solo.
Sangatlah tepat jika Stasiun Lempuyangan dikatakan sebagai salah satu warisan sejarah kota Jogja yang harus dilestarikan. Karena tanpanya, mungkin saja, perkembangan perkeretaapian di Pulau Jawa tidak akan sepesat seperti saat ini.

*-*


“ mommy…. tadi aku naik kakapi lho.. dari stasiun Lempuyangan ke Klaten, terus dijemput bus di sana…. Asyiiikkkk lho…” Lapor Nadjwa dengan suara cedal sore harinya.

Eyang putri yang mendengar suara Nadjwa ikut tersenyum, Gallo mengucek-ucek rambut adiknya... usut punya usut suara cedal Nadjwa menirukan gaya kakaknya ketika umur 5 tahunan, setiap sore minta diajak eyangnya lihat kakapi atau kereta api. Rupanya eyang putri menceritakan kebiasaan Gallo dulu, sambil makan disuapi eyangnya, melihat kereta api lalu lalang di stasiun lempuyangan.

Mom yang baru saja meletakan tas usai pulang kerja tertawa mendengar suara Nadjwa dan menciumi pipi Nadjwa, “ senang ya deq..? seru yaaa kegiatannya... “
Nadjwa mengangguk-angguk dengan lucu, makin membuat mommy gemas. Alhamdullilah Nadjwa telah mengikuti kegiatan outing dengan baik dan kembali kerumah dengan selamat.
*-*